Pendahuluan: Menggugat Narasi Lama
Historiografi arus utama Indonesia secara konvensional sering menekankan proses Islamisasi damai dan kultural melalui figur Walisongo pada akhir abad ke-16, dengan penekanan yang minim pada dimensi politik-militer pesisir Jawa. Namun, pembacaan mendalam terhadap sumber primer Spanyol dan Portugis kontemporer (1580–1584) mengungkapkan gambaran yang jauh lebih keras dan dinamis: periode tersebut justru menempatkan Jawa—khususnya pelabuhan di Jawa Timur—sebagai kekuatan maritim ofensif paling efektif di Asia Tenggara.
Dokumen-dokumen Iberia sezaman ini secara eksplisit mencatat keberadaan konflik bersenjata, ekspedisi militer lintas-laut, dan koalisi penguasa pesisir Jawa yang secara aktif menantang hegemoni Portugis dan Spanyol di kawasan tersebut. Artikel ini merekonstruksi peran politik-militer luar biasa Jawa yang sering terpinggirkan dalam narasi sejarah nasional.
Kebangkitan Liga Maritim Pesisir Jawa
Titik balik yang menandai kebangkitan kekuatan maritim Jawa terjadi pada tahun 1580. Melalui rekonstruksi kronologis, ditemukan adanya Liga Maritim Pesisir Jawa yang mampu melakukan proyeksi kekuatan (power projection) lintas kepulauan. Aliansi ini bersifat horizontal, terikat oleh kepentingan elite pelabuhan dan bukan tunduk pada satu kerajaan pusat.
Koalisi ini melibatkan lima penguasa pesisir yang disebut sebagai 'Raja' (rei), menunjukkan identitas politik yang jelas dan bukan sekadar bajak laut atau massa anonim. Kelima penguasa tersebut adalah:
- Raja Tuban: Pusat logistik dan produksi senjata.
- Raja Sedayu (Sidaio): Basis niaga dan militer pesisir, yang kemudian menjadi poros strategis bagi logistik dan galangan kapal.
- Raja Brondong: Pelabuhan pengumpul perahu cepat dan awak.
- Raja Gresik (Gonis): Pusat religio-politik yang penting.
- Raja Jaratan: Kawasan mobilisasi kapal dan galangan (Giri Kedaton).
Operasi Militer Anti-Galleon (1580)
Pada tahun 1580, aliansi lima penguasa ini melakukan operasi militer terencana dengan merebut sebuah galleon Portugis di Laut Jawa. Catatan Portugis yang dikompilasi oleh Ferrari mengabadikan kehebatan taktik ini: "tombak-tombak orang Jawa menembus kapal itu dari satu sisi ke sisi lain". Serangan yang terkoordinasi dan penggunaan senjata panjang untuk melumpuhkan kapal perang Eropa menunjukkan adaptasi taktik anti-galleon oleh angkatan laut Jawa.
Proyeksi Kekuatan ke Maluku (1582–1584)
Keberhasilan di Laut Jawa diikuti oleh eskalasi yang lebih besar, mengubah Jawa dari kekuatan regional menjadi aktor militer yang mampu melakukan intervensi dalam konflik internasional di Maluku.
Dokumen Spanyol dari Manila mencatat pada tahun 1582 bahwa Sultan Ternate menerima 2.000 prajurit Jawa yang dikirim oleh seorang penguasa kuat bernama Rey Garcayan. Jumlah ini menandakan mobilisasi tingkat negara-pesisir murni, bukan sekadar ekspedisi dagang.
Dominasi Jawa di medan perang Maluku semakin diperkuat pada tahun 1583. Sumber-sumber Iberia menegaskan bahwa Jawa adalah "pejuang utama dan sekutu" Sultan Ternate. Mereka mencatat intensitas "arus kapal Jawa ke Maluku" yang membawa logistik, tombak, dan bahkan senjata api (espingardas). Peran Jawa saat itu diakui melampaui bantuan yang diberikan oleh kekuatan Asia Tenggara lainnya seperti Melayu maupun Makassar.
Puncaknya, pada tahun 1584, utusan Spanyol Pedro Sarmiento menulis bahwa meskipun Sultan Ternate dibantu oleh 20 ahli senjata api Turki, bantuan utama datang dari Jawa: 1.000 prajurit, kapal, dan yang paling penting, artileri. Kehadiran artileri Jawa menunjukkan penguasaan teknologi militer berat. Ini juga menunjukkan kesinambungan logistik, dengan pengiriman berlapis (2.000 prajurit pada 1582 dan 1.000 pada 1584).
Menariknya, sumber Iberia lain mengikat seluruh rangkaian peristiwa ini dengan mencatat bahwa 400 orang Jawa yang terlihat membeli cengkeh di Maluku adalah orang yang sama yang tiga tahun sebelumnya merebut galleon Portugis. Ini membuktikan operasi maritim tersebut bukan insiden terpisah, melainkan operasi berkelanjutan oleh jaringan militer Jawa.
Kesimpulan
Periode 1580–1584 merupakan puncak supremasi maritim Jawa. Dalam kurun empat tahun, Jawa mampu merebut galleon Iberia, mengirimkan total setidaknya 3.000 prajurit, mengoperasikan artileri, dan melakukan perang lintas-teater, melampaui capaian kerajaan Asia Tenggara lainnya.
Melalui rekonstruksi berbasis sumber primer ini, pandangan konvensional tentang Jawa akhir abad ke-16 sebagai ruang dakwah yang pasif harus direvisi. Jawa saat itu adalah aktor geopolitik utama yang diakui oleh Portugis dan Spanyol, dan tampil sebagai kekuatan maritim imperatif yang secara nyata mengguncang hegemoni Eropa di Asia Tenggara.
Oleh : Fathur Rahman, M.Pd
Editor : Nurul Yaqin
Referensi :
- Ferrari, B. Relações das Cousas do Oriente. Lisbon, akhir abad XVI.
- Pires, Tomé. Suma Oriental. Ed. Armando Cortesão. London: Hakluyt Society, 1944.
- Sarmiento, Pedro. Relación de las Islas Malucas, 1584. Arsip Manila–Madrid.
- Boxer, C. R. The Portuguese Seaborne Empire, 1415–1825. London: Hutchinson, 1969.
- Reid, Anthony. Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680. New Haven: Yale University Press, 1988.
MAPSINU