Selama berabad-abad, memori kolektif kita sering menyederhanakan Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik sekadar sebagai seorang pedagang tua yang menyebarkan Islam sambil berjualan di pelabuhan. Namun, batu nisan marmer putih di Gresik yang telah berdiri lebih dari 600 tahun menyimpan narasi yang jauh lebih megah. Ia bukan sekadar pedagang; ia adalah arsitek peradaban.

Berdasarkan pembacaan epigrafi yang kita lakukan, sosok yang wafat pada 1419 M ini adalah seorang negarawan ulung dengan gelar “Umdatus Salatin”  yaitu Sandaran Para Sultan dan “Ki Saka Pati Bantala” (Tiang Penyangga Penguasa Dunia). Ia adalah prototipe pemimpin paripurna yang memadukan otoritas politik, ketajaman strategi dan kedalaman spiritual.

Di tengah dinamika kepemimpinan yang kerap melanda bangsa kita hari ini, ada empat pilar kepemimpinan dari Maulana Malik Ibrahim yang patut kita gali kembali.

Pertama, Pemimpin sebagai "Penyangga" (The Stabilizer)

Gelar Umdatus Salatin bukanlah gelar kosong dan dalam bahasa Jawa Kuno, Saka  juga diartikan sebagai tiang utama, Malik Ibrahim diposisikan sebagai "Tiang Bumi" sosok yang memberikan stabilitas di tengah guncangan.

Sebagai penguasa otoritatif pertama Islam di Jawa, ia tidak hadir untuk merusak tatanan Majapahit yang sedang rapuh, melainkan menopangnya. Ia mengamankan jalur rempah, menata pelabuhan Gresik menjadi hub internasional, dan menjadi penengah bagi para raja. Pemimpin sejati bukanlah mereka yang menciptakan kegaduhan, melainkan mereka yang hadir memberikan kepastian hukum dan stabilitas ekonomi bagi rakyatnya.

Kedua, Kompetensi Tanpa Meninggalkan Empati

Seringkali, pejabat tinggi berjarak dengan rakyat kecil. Namun, nisan Malik Ibrahim mencatat paradoks yang indah. Di satu sisi, ia bergelar Mufakhar al-Umara yaitu Kebanggaan Para Petinggi, menunjukkan kompetensi birokratis dan militer yang diakui elite. Namun di baris yang sama, tertulis Muhibbul Masakin Pencinta Orang-orang Miskin.

Ini adalah kritik keras bagi model kepemimpinan elitis. Malik Ibrahim mengajarkan bahwa legitimasi kekuasaan tidak didapat dari seberapa dekat kita dengan istana, tapi seberapa dekat hati kita dengan kaum dhuafa. Ia adalah "Bapak" bagi fakir miskin, bukan karena pencitraan, tapi karena karakter Futuwwa (kesatriaan) yang tertanam dalam jiwanya.

Ketiga, Integritas Berbasis Tauhid

Jantung dari kepemimpinan Malik Ibrahim adalah Tauhid. Inskripsi makamnya dihiasi dengan Surat Al-Baqarah (Ayat Kursi), Al-Ikhlas, dan Ali Imran. Ini bukan sekadar ornamen. Pemilihan ayat “Laa ikraha fiddin” (Tidak ada paksaan dalam agama) menunjukkan gaya kepemimpinannya yang inklusif dan humanis.

Sebagai pejabat yang memegang otoritas dari berbagai negara, ia tidak menggunakan kekuasaannya untuk memaksa keyakinan atau memperkaya diri. Integritasnya bersumber dari kesadaran transendental bahwa jabatan adalah amanah Tuhan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Keempat, Berani Berkorban

Gelar As-Sa’id As-Syahid (Yang Berbahagia lagi Syahid) pada senotapnya menyiratkan bahwa Malik Ibrahim adalah pemimpin lapangan yang berani mengambil risiko. Ia bukan pemimpin "di balik meja". Ia bertanggung jawab penuh mengamankan jalur logistik rempah yang penuh bahaya bajak laut.

Mentalitas Syahid adalah mentalitas totalitas. Pemimpin tipe ini bekerja bukan untuk insentif materi, melainkan untuk sebuah misi besar. Ia siap "mati",  rela mengorbankan ego dan kenyamanannya demi tegaknya keadilan dan kemakmuran rakyat yang dipimpinnya.

Refleksi Kita

Hari ini, kita merindukan sosok Profetik seperti Malik Ibrahim di zaman modern. Kita butuh pemimpin yang mampu menjadi "tiang penyangga" yang kokoh bagi negara, yang cerdas secara strategi global, namun memiliki hati yang luluh pada penderitaan rakyat miskin.

Ibrahim telah mewariskan cetak biru itu. Ia membuktikan bahwa Islam, ketika diterjemahkan dalam kepemimpinan, bukanlah tentang perebutan kekuasaan, melainkan tentang pelayanan, stabilitas, dan pengorbanan.

Sudah saatnya kita berhenti melihat makam dan Senotap beliau hanya sebagai tempat ziarah spiritual semata, dan mulai menjadikannya sebagai teladan untuk kepemimpinan politik dan kenegaraan.

 

Oleh : H. Sariat Arifia