Lasem, sebuah wilayah di pesisir utara Jawa, kini kembali menjadi sorotan dalam kajian arkeologi dan sejarah Islam. Hal ini dipicu oleh penemuan nisan kuno ber-epigrafi yang sangat langka, yang posisinya menjadikannya sebuah anomali historis yang krusial di tengah minimnya artefak 'berbicara' di seluruh Pulau Jawa.
Kelangkaan Epigrafi Jawa
Di antara ribuan artefak dan situs di seluruh Jawa, nisan kuno yang memiliki inskripsi (epigrafi) dan mampu memberikan data sejarah yang jelas jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Kelangkaan ini kontras jika dibandingkan dengan Pasai. Namun, penemuan di Lasem memberikan jawaban tak terduga yang menegaskan posisi Lasem sebagai laboratorium akulturasi budaya dan menuntut reinterpretasi terhadap narasi sejarahnya.
Penemuan artefak ini bukan terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan hasil metodologi penelitian arkeologis yang sistematis dan bertahap. Proses penemuan dan identifikasi dimulai saat kunjungan ke Makam ‘Mbah Sambu’ dan berlanjut ke Makam Nyai Maloka pada 11 Agustus 2024, hingga identifikasi lanjutan dan pemugaran penuh pada Februari 2025.
Makam Khawwajah Yaqut Ghabbasyi: Tokoh Spiritual Awal Abad ke-15
Nisan epigrafis yang ditemukan ini mengidentifikasi makam sebagai Dharih (pusara/makam berstruktur) milik seorang tokoh bernama Khawwajah Yaqut Ghabbasyi. Berdasarkan inskripsinya, almarhum wafat pada akhir bulan Sya'ban tahun 803 Hijriah, yang bertepatan dengan sekitar 22 April 1401 Masehi. Tanggal
menempatkan keberadaan tokoh tersebut pada era akhir Kerajaan Majapahit dan masa awal penyebaran Islam secara masif di pesisir utara Jawa.
Tokoh ini menyandang dua gelar kehormatan penting:
Khawwajah (خواجة): Gelar kehormatan yang berasal dari bahasa Persia, ditujukan kepada tokoh terpandang seperti saudagar kaya, pejabat tinggi, guru, atau syekh. Dalam konteks ini, karena disandingkan dengan Yaqut, Khawwajah Yaqut Ghabbasyi diinterpretasikan sebagai tokoh spiritual, guru thariqat, atau guru agama Islam pada masanya.
Yaqut (ياقوت): Ini adalah laqab (julukan kehormatan) yang diberikan kepada seorang wali (pemimpin spiritual) dengan maqam (tingkatan spiritual) yang sangat tinggi. "Yaqut" berarti Batu Ruby atau Merah Delima. Dalam tradisi sufi, batu Yaqut melambangkan kemurnian, kekuatan iman yang kokoh, serta cahaya pengetahuan Ilahi (ma'rifah) yang dipantulkan untuk menerangi jalan para murid. Yaqut juga melambangkan kelangkaan dan nilai yang sangat tinggi, serupa dengan permata.
Sementara itu, "Ghabbasyi" kemungkinan besar adalah Nisbah, yang menunjukkan asal-usul geografis (mungkin dari wilayah bernama Ghabbash atau Ghabasy di dekat Hormuz), atau merujuk pada julukan leluhur atau profesi (seperti seseorang yang aktif bekerja sebelum fajar).


Implikasi Historis dan Pesan Eskatologis
Nisan Lasem ini tidak hanya penting karena identitasnya, tetapi juga karena struktur makam dan pesan di dalamnya.
Inskripsi menggunakan kata Dharih (ضريح) untuk menyebut makamnya, yang lebih spesifik dari qabr (kubur biasa). Penggunaan Dharih ini menunjukkan bahwa makam Khawwajah Yaqut kemungkinan besar memiliki bangunan, kijing, atau nisan yang terstruktur dan menonjol pada masa lalu, sesuai dengan statusnya sebagai orang terpandang.
Kedua sisi nisan lainnya memuat pesan-pesan eskatologis yang menegaskan berlakunya hukum-hukum Islam mengenai kehidupan dan kematian. Inskripsi ini mengutip ayat-ayat Al-Qur'an: "Setiap nyawa pasti merasakan mati" (Surah Ali 'Imran 185) dan "Segala sesuatu di bumi pasti binasa" (Surah Ar-Rahman 26). Kalimat ini mengingatkan bahwa tidak ada makhluk yang kekal kecuali Tuhan, dan kehidupan di dunia harus dipertanggungjawabkan. Kalimat tambahan "Dan kematian tidak mati" selaras dengan pemahaman spiritual bahwa mati adalah pintu menuju kehidupan sejati. Seluruh inskripsi ini diukir dengan kaligrafi Arab gaya Tsuluts.
Analisis tipologis juga menemukan kesamaan antara nisan Lasem ini dengan nisan-nisan di Troloyo, Gresik, dan Ampel. Kesamaan ini semakin memperkuat data epigrafis yang mengonfirmasi eksistensi komunitas Islam awal di Lasem yang bersifat otonom dan berbeda dari pusat Islam kontemporer lainnya.
Berdasarkan signifikansi historisnya, penemuan ini mendorong perlunya pengembangan riset interdisipliner lebih lanjut, konservasi terpadu situs arkeologis, dan edukasi publik untuk memahami warisan budaya Lasem yang unik. Penemuan nisan Khawwajah Yaqut Ghabbasyi menjadi kunci fisik yang menghubungkan Lasem ke dalam jaringan sejarah Islam awal di Jawa pada awal abad ke-15.
Referensi :
Posisi Sejarah dan Keistimewaan Lasem di Antara Nisan-nisan Seluruh Pulau Jawa. H. Sariat Arifia.
MAPSINU