"Het Boek van Bonang" merupakan salah satu manuskrip bersejarah yang sangat penting, berfungsi sebagai sumber rujukan utama untuk membuktikan eksistensi Walisongo dan ajaran-ajaran Islam yang disandarkan kepada Sunan Bonang. Naskah ini bukan sekadar catatan biasa, melainkan cerminan pemikiran mendalam salah satu tokoh penyebar Islam terkemuka di Jawa. Studi tentang manuskrip ini, khususnya dari perspektif filsafat pendidikan Islam, mengungkapkan kekayaan ajaran tauhid dan tasawuf yang menjadi inti dakwah Sunan Bonang.
Sejarah dan Isi "Het Boek van Bonang" Manuskrip "Het Boek van Bonang" terdiri dari dua bagian yang ditemukan di Leiden, Belanda. Naskah ini adalah bukti otentik karya para Wali. Manuskrip A berisi risalah pengajian Sunan Bonang di Tuban yang ditulis oleh murid-muridnya, sementara Manuskrip B mencatat risalah rapat para Wali mengenai sekte-sekte menyimpang, termasuk konsep wahdatul wujud.
Naskah ini, ditemukan di Tuban sekitar tahun 1595-1598 dan kemudian dibawa ke Belanda, membahas inti ajaran Sunan Bonang tentang syariat untuk meningkatkan iman dan takwa melalui thoriqoh sesuai ajaran Nabi. Secara keseluruhan, manuskrip fenomenal ini berisi 83 bait atau paragraf. "Het Boek van Bonang" juga berfungsi sebagai bentuk perlawanan terhadap aliran-aliran menyimpang seperti Wujudiyah Mulhidah, dengan memurnikan akidah pendidikan Islam. Dalam kajian para ahli, naskah ini diyakini oleh Schrieke sebagai tulisan Sunan Bonang sendiri dan mengandung ajaran tasawuf, fikih, dan ushuluddin.
Pendidikan Tauhid Sunan Bonang: Penegasan Keesaan Allah Pesan utama Sunan Bonang dalam "Het Boek van Bonang", terutama pada Bab I, adalah pentingnya tauhid (keesaan Tuhan) dalam beragama. Tauhid, yang secara etimologis berarti mengesakan Allah, dalam pandangan Muhammad Abduh merupakan pembahasan ilmu tentang keberadaan Allah, sifat-sifat wajib, sifat-sifat yang boleh disifatkan, dan sifat-sifat yang mustahil disifatkan kepada-Nya.
Sunan Bonang secara tegas mengajarkan konsep tauhid ini, yang terbagi menjadi tiga jenis utama:
- Tauhid Rububiyah: Keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta segala sesuatu.
- Tauhid Uluhiyah: Pemurnian niat dan perbuatan yang semata-mata hanya ditujukan kepada Allah.
- Tauhid Asma' wa Sifat: Keyakinan bahwa Allah memiliki semua sifat kesempurnaan dan bersih dari segala kekurangan, serta berbeda dengan ciptaan-Nya.
Dalam manuskrip, khususnya Bab I, penegasan tauhid terlihat jelas dalam ungkapan "Lan noranana papadaning Allah pangeran" yang berarti "tidak ada apapun yang menyamai Allah". Sunan Bonang menjelaskan bahwa Allah memiliki sifat kekal, "tanpa wiwitan tanpa wekasan" (tanpa awal tanpa akhir), yang menunjukkan substansi ketuhanan yang mutlak.
Untuk menyebarkan ajaran tauhid ini, Sunan Bonang menggunakan pendekatan budaya dan seni, mirip dengan Sunan Kalijaga. Beliau mahir menggubah tembang macapat dan sering menjadi dalang wayang. Dalam setiap pertunjukan, Sunan Bonang memanfaatkan seni gamelan, khususnya bonang, untuk menarik simpati masyarakat. Uniknya, beliau mensyaratkan para pemain gamelan untuk membasuh kaki di kolam dan mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum bermain, secara tidak langsung memasukkan ajaran tauhid ke dalam masyarakat Jawa.
Kritik Tegas Sunan Bonang terhadap Tasawuf Filosofis Salah satu aspek penting dari ajaran Sunan Bonang dalam "Het Boek van Bonang" adalah kritiknya yang tajam terhadap ajaran tasawuf filosofis, terutama konsep wahdatul wujud (kesatuan eksistensi) yang dipelopori oleh Ibn Arabi. Sunan Bonang menolak keras pandangan yang menyatakan bahwa makhluk adalah emanasi atau manifestasi dari Tuhan.
Beliau menentang konsep seperti "martabat tujuh" (penurunan martabat Tuhan hingga menjadi makhluk) dan gagasan tanazzul (manifestasi Tuhan dalam tahapan menurun). Sunan Bonang menegaskan bahwa Tuhan memiliki sifat absolut transenden dan tidak ada penyatuan imanen antara Tuhan dan manusia. Proses penciptaan manusia, menurut Sunan Bonang, adalah melalui kalimat "kun fayakun" (jadilah, maka ia jadi) dari Allah, yang menegaskan bahwa keberadaan manusia sepenuhnya karena kehendak Tuhan, tanpa perantara.
Pandangan yang menyamakan manusia dengan Tuhan dianggap kekafiran oleh Sunan Bonang. Beliau juga menolak praktik shatahat—perasaan kesatuan dengan Tuhan seperti yang diungkapkan oleh Abu Manshur al-Hallaj ("Ana al-Haq" atau "Akulah Kebenaran") atau Syekh Siti Jenar ("Tiada yang pantas dipuji selain diriku")—karena hal itu dianggap kesesatan dan menafikan transendensi Allah. Kritik ini juga menyasar ajaran kawibataniyah yang menyamakan sifat Tuhan dengan makhluk.
Pendekatan Tasawuf Sunni (Khuluqi Amali) Sunan Bonang Sebagai alternatif dan koreksi terhadap tasawuf filosofis, Sunan Bonang mengedepankan tasawuf Sunni, yang sejalan dengan ajaran Imam Ghazali atau dikenal dengan khuluqi amali (tasawuf praktis). Pendekatan ini mengutamakan jalur syariat dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Tujuan tasawuf Sunni ini adalah menjadi kekasih Allah melalui jalan rijalullah, bukan melalui jalur substantif atau penyatuan esensi dengan Tuhan. Jalan rijalullah melibatkan:
- Zuhud: Menjauhkan diri dari dunia dan mendekatkan diri kepada Allah.
- Ketulusan: Menghindari perilaku buruk, pamer, dan mencari pujian.
- Ketaatan Beribadah: Menegakkan salat dan bersedekah secara tersembunyi.
- Dzikir: Memperbanyak mengingat Allah.
- Enam Cara Merasakan Kehadiran Tuhan: Bersyukur dalam kesendirian (menaniningsing asepi), mengubah kesedihan menjadi rasa syukur (manisenining aloewe), mensyukuri nikmat Tuhan dengan menjalani hidup sesuai kehendak-Nya (menanising oerip), senantiasa waspada dalam keramaian (mananising rame), menerima penderitaan dengan rida Allah (mananising lara), dan mempersiapkan diri untuk kematian dengan memperbanyak bekal (mananising pati).
Sunan Bonang menjelaskan bahwa ma'rifat (pengetahuan tentang Allah) bukanlah tujuan akhir tasawuf, melainkan sebuah anugerah. Ia membagi ma'rifat menjadi tiga jenis: Ma'rifatu dzatillah (esensi Tuhan yang tunggal), Ma'rifatu alamillah (sifat kekal Tuhan), dan Ma'rifatu af'alillah (perbuatan Tuhan tanpa bantuan siapa pun). Baik tasawuf filosofis maupun tasawuf Sunni, keduanya menerima konsep karomah (kejadian luar biasa atau mukjizat kecil), seperti peristiwa Sunan Bonang mengubah buah menjadi emas.
Kesimpulan "Het Boek van Bonang" adalah dokumen penting yang menggambarkan secara rinci bagaimana Sunan Bonang membangun pendidikan Islam yang berlandaskan tauhid murni dan tasawuf yang selaras dengan syariat. Melalui karyanya, Sunan Bonang tidak hanya menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga mengkritik pandangan-pandangan yang dianggap menyimpang, khususnya konsep wahdatul wujud. Ajarannya yang menekankan ketaatan beribadah dan jalan syariat sebagai proses menuju kesempurnaan (Rijalullah) terus relevan dan menjadi dasar bagi perkembangan pendidikan Islam, khususnya pendidikan karakter, di Indonesia hingga saat ini.
Referensi :
Waluyo. 2023. Pendidikan Tauhid Dalam Naskah Het Boek Van Bonang Pendekatan Filsafat Pendidikan Islam. Universitas Nahdhatul Ulama Surakarta.
Waluyo., Djam’anuri., Mulyo, M. T. 2023. Sufi Education In “Het Boek Van Bonang”: A Philosophical Perspective On Islam Education. Jurnal Kajian Kependidikan Islam, UIN Raden Mas Said Surakarta.
MAPSINU