Pada tulisan sebelumnya, kita sepakat bahwa menulis sejarah tanpa nalar dan logika ibarat memasak tanpa resep: hasilnya pasti kacau. Sekarang, mari kita lihat lebih jauh. Sejarah tanpa nalar bukan hanya "kacau", tapi bisa menjadi racun mematikan yang merusak sebuah bangsa dari dalam.

Sejarah adalah cermin bagi sebuah bangsa untuk melihat wajahnya sendiri. Ketika cermin itu sengaja diretakkan atau digores dengan kebohongan, yang terpantul bukanlah wajah asli, melainkan "wajah kepalsuan".

Berikut adalah beberapa contoh nyata dari seluruh dunia di mana sejarah ditulis tanpa nalar, dan akibat mengerikan yang ditimbulkannya.

Studi Kasus 1: Mitos Ras Arya oleh Nazi Jerman

Narasi Tanpa Nalar: Rezim Nazi di bawah Adolf Hitler mempromosikan sejarah palsu bahwa "Ras Arya" adalah ras unggul, pencipta semua peradaban hebat di dunia. Mereka mengklaim bangsa Jerman adalah keturunan paling murni dari ras ini. Sebaliknya, mereka menciptakan narasi bahwa orang Yahudi adalah ras rendah yang merusak dunia dan menjadi penyebab kekalahan Jerman di Perang Dunia I.

Bagaimana Nalar Disingkirkan: Mereka memelintir ilmu arkeologi, antropologi, dan linguistik. Simbol swastika yang merupakan simbol kuno di banyak budaya (termasuk Hindu) mereka klaim sebagai bukti eksklusif ke-Arya-an. Mereka mengabaikan semua bukti ilmiah yang bertentangan dan menggantinya dengan propaganda. Ini bukan sejarah, ini adalah pseudosains (ilmu semu) untuk tujuan politik.

Akibat Fatal: Narasi ini menjadi pembenaran untuk salah satu kejahatan paling mengerikan dalam sejarah manusia: Holocaust. Jutaan orang Yahudi, Gipsi, dan kelompok lain dibantai secara sistematis karena dianggap "tidak murni" dan "berbahaya" menurut sejarah fiktif yang mereka ciptakan. Perang Dunia II pun meletus, menewaskan puluhan juta orang, semua diawali dari sebuah kebohongan historis.

Studi Kasus 2: Penghapusan Tokoh di Uni Soviet

Narasi Tanpa Nalar: Di bawah kediktatoran Josef Stalin, sejarah Revolusi Rusia ditulis ulang secara drastis. Peran Stalin dibesar-besarkan seolah ia adalah tangan kanan Lenin dan tokoh sentral revolusi. Sebaliknya, tokoh-tokoh yang menjadi lawan politiknya, seperti Leon Trotsky, dihapus sepenuhnya dari catatan sejarah.

Bagaimana Nalar Disingkirkan: Ini dilakukan secara harfiah. Foto-foto diubah, dimana wajah Trotsky dan "musuh negara" lainnya dihilangkan dari foto-foto bersejarah. Buku-buku sejarah ditarik dan ditulis ulang. Sejarawan yang berani menulis kebenaran akan dieksekusi atau dikirim ke kamp kerja paksa (Gulag). Fakta dan bukti dikalahkan oleh kekuatan dan ketakutan.

Akibat Fatal: Terciptanya sebuah generasi yang buta akan sejarah bangsanya sendiri. Masyarakat hidup dalam ketakutan dan tidak bisa mempercayai apa pun. Ketika sejarah bisa diubah semudah membalik telapak tangan oleh penguasa, maka kebenaran itu sendiri menjadi tidak ada harganya. Ini adalah fondasi dari negara totaliter yang mengontrol pikiran warganya.

Studi Kasus 3: Mitos "The Lost Cause" di Amerika Serikat

Narasi Tanpa Nalar: Setelah kalah dalam Perang Saudara Amerika, para pendukung Konfederasi (pihak Selatan) menciptakan narasi yang disebut "The Lost Cause" (Perjuangan yang sia-sia). Mereka mengklaim bahwa perang itu terjadi bukan karena mereka ingin mempertahankan perbudakan, melainkan karena memperjuangkan "hak negara bagian" dan melawan "agresi dari Utara". Mereka melukiskan kehidupan di Selatan sebelum perang sebagai sesuatu yang mulia dan terhormat.

Bagaimana Nalar Disingkirkan: Mereka secara selektif mengabaikan dokumen-dokumen deklarasi pemisahan diri mereka sendiri, yang secara eksplisit menyebut perlindungan institusi perbudakan sebagai alasan utama. Mereka lebih memilih mempopulerkan novel dan memoar yang romantis daripada data ekonomi dan catatan sejarah yang brutal tentang perbudakan.

Akibat Fatal: Mitos ini memberikan pembenaran moral bagi penerapan sistem segregasi rasial (Jim Crow) selama hampir 100 tahun. Orang kulit hitam terus dianggap sebagai warga kelas dua. Rasisme sistemik berakar kuat karena banyak orang kulit putih di Selatan tidak pernah dipaksa untuk menghadapi kebenaran sejarah bahwa nenek moyang mereka berperang untuk mempertahankan kejahatan terhadap kemanusiaan. Luka ini masih terasa hingga hari ini di Amerika.

Pentingnya Diskusi: Obat Penawar Racun Sejarah

Melihat contoh-contoh mengerikan di atas, kita tahu bahwa sejarah yang salah adalah bahaya nyata. Lalu, apa obatnya? Jawabannya sederhana namun sangat kuat: Diskusi Sejarah yang Menggunakan Nalar.

Sejarah bukanlah kitab suci yang turun dari langit. Ia adalah sebuah bidang ilmu di mana interpretasi dibangun di atas bukti. Diskusi adalah proses untuk menguji interpretasi tersebut.

Diskusi adalah Uji Kelayakan: Dalam diskusi yang sehat, sebuah argumen sejarah akan "ditantang". Orang akan bertanya, "Apa sumber Anda?", "Apakah sumber itu bisa dipercaya?", "Bagaimana jika dilihat dari sudut pandang korban?." Pertanyaan-pertanyaan kritis inilah yang memisahkan antara sejarah yang kokoh dan propaganda yang rapuh.

Diskusi Membuka Perspektif Baru: Sejarah tidak pernah hitam-putih. Dengan berdiskusi, kita bisa melihat satu peristiwa dari berbagai kacamata: ekonomi, sosial, politik, bahkan psikologi. Ini membuat pemahaman kita menjadi lebih kaya dan tidak monolitik. Kita belajar bahwa dalam setiap peristiwa, ada banyak pelaku dengan motif yang berbeda-beda.

Diskusi Membangun Kedewasaan Bangsa: Bangsa yang dewasa adalah bangsa yang berani membicarakan masa lalunya, bahkan yang paling kelam sekalipun. Jerman hari ini secara terbuka membahas dan mengakui kengerian Holocaust. Mereka tidak menyembunyikannya. Justru dengan keterbukaan itulah, mereka memastikan hal itu tidak akan terulang. Menghindari diskusi tentang bagian-bagian sulit dari sejarah adalah tanda ketakutan dan ketidakdewasaan.

Kesimpulan

Jangan pernah lagi meremehkan pelajaran sejarah. Di baliknya, ada kekuatan untuk membangun atau menghancurkan. Contoh dari Nazi, Soviet, hingga Amerika menunjukkan bahwa ketika nalar dibuang, sejarah menjadi senjata pemusnah massal.

Tugas kita sebagai warga negara adalah menolak menjadi konsumen pasif. Mari kita nyalakan nalar kita. Bertanyalah, bacalah dari berbagai sumber, dan yang terpenting, ikutlah dalam diskusi yang sehat dan berbasis bukti.

Karena hanya dengan cermin yang jernih dan tidak retak, kita bisa melihat wajah asli kita dan melangkah ke masa depan dengan lebih bijaksana.

 

Oleh : H. Sariat Arifia