Kunjungan itu datang tanpa protokol panjang, tanpa publikasi, tanpa seremoni. Tiba-tiba ia sudah berada di Serambi Mekah. Lalu beredar pertanyaan yang memantik rasa ingin tahu banyak orang:

“Ada apa Gus Baha tiba-tiba datang ke Aceh? Padahal, di daerahnya sendiri beliau jarang berkenan memenuhi undangan. Bahkan, pihak Masjid Raya baru mengetahui kedatangannya sekitar tiga jam sebelum waktu Maghrib.”

Di hadapan publik Aceh, Gus Baha menyampaikan pernyataan yang kemudian ramai diperbincangkan:

“Saya sebetulnya datang ke Aceh itu bukan untuk ngaji, untuk mengakui bahwa versi sejarah itu menulis bahwa Islam pertama itu ada di Aceh. Nggak ada versi lain. Tapi apakah itu asli orang Aceh, itu mungkin versinya yang berbeda.”

Pernyataan tersebut membuka kembali diskusi lama yang selama ini dianggap selesai. Jika Islam pertama kali hadir di Nusantara melalui Aceh—sebagaimana disepakati oleh berbagai versi sejarah—maka persoalan sesungguhnya bukan lagi soal wilayah, melainkan tentang bagaimana relasi Aceh dengan proses lahirnya Islam di Jawa.

Selama ini, sejarah populer cenderung membaca Malik Ibrahim secara sederhana: datang sebagai pendakwah, menyebarkan Islam, lalu wafat di Gresik. Namun pendekatan semacam ini mengabaikan karakter utama dunia Islam abad pertengahan, yang bergerak melalui jaringan ulama, kekuasaan politik, dan perdagangan lintas wilayah. Jika Samudra Pasai telah berdiri sebagai pusat Islam mapan sejak abad ke-13, maka sulit menjelaskan kemunculan Islam di Jawa tanpa keterhubungan struktural dengan pusat tersebut.

Sejumlah penelitian mutakhir memperkuat asumsi ini. Analisis epigrafi batu nisan Malik Ibrahim menunjukkan bahwa ia bukan pedagang, sebagaimana sering digambarkan dalam narasi populer belakangan, melainkan figur dengan otoritas tinggi. Gelar “Malik”, “amir”, serta sebutan yang berasosiasi dengan bangsawan dan pendukung sultan menempatkannya dalam struktur kekuasaan Islam. Hal ini berbeda dengan epitaf pedagang Cambay abad ke-14–15 yang memiliki formula gelar niaga yang khas.

Lebih jauh, riset yang dipublikasikan dalam Asian Journal of Engineering, Social and Health (2023) mengajukan hipotesis bahwa Malik Ibrahim kemungkinan besar adalah Sultan Zainal Abidin dari Pasai, ayah Malikah Nahrasyiyah. Kesimpulan ini didasarkan pada kemiripan absolut batu nisan marmer putih tipe Cambay yang hanya dimiliki dua tokoh tersebut di Nusantara, termasuk frasa langka as-sa‘id as-syahīd. Fakta bahwa makam Sultan Zainal Abidin tidak ditemukan di Pasai justru memperkuat dugaan bahwa ia wafat di luar wilayah tersebut, yakni di Gresik.

Hubungan Pasai–Gresik juga tercermin dari distribusi batu nisan Cambay. Sebagian besar ditemukan di Pasai, sementara beberapa lainnya berada di Gresik dengan tipologi identik. Penelitian lanjutan menunjukkan bahwa pengerjaan batu nisan tersebut kemungkinan besar berpusat di Pasai oleh seniman Kambayat yang bermigrasi, bukan semata diimpor sebagai produk jadi dari Gujarat. Beberapa batu nisan di Gresik bahkan tampak belum selesai, mengisyaratkan ketergantungan teknis pada Pasai.

Dalam konteks ini, Gresik tidak berdiri sebagai titik awal yang terisolasi, melainkan sebagai simpul lanjutan dari jaringan Pasai. Kajian historiografi telah lama menempatkan Islamisasi Jawa sebagai hasil mobilitas ulama dan elite politik lintas kawasan, mengikuti jalur perdagangan dan kekuasaan. Perpindahan figur kunci dari Sumatra ke Jawa dengan demikian merupakan pola sejarah, bukan anomali.

Catatan Dinasti Ming menyebut figur yang dapat diidentifikasi dengan Malik Ibrahim sebagai Shi Jin Qing, tokoh yang diberi mandat oleh Pasai, penguasa Jawa, dan Dinasti Ming untuk mengamankan jalur rempah dari Sumatra ke Jawa. Peran ini menunjukkan posisinya sebagai otoritas politik dan ekonomi regional, bukan sekadar pendakwah individual. Gelar Jawa Ki Saka Pati Bantala secara makna sepadan dengan konsep “pilar para sultan”.

Warisan ini diteruskan oleh generasi berikutnya. Nyai Ageng Pinatih, syahbandar perempuan Gresik, memiliki peran sentral dalam perkembangan Islam di Jawa Timur. Di bawah asuhannya, Sunan Giri tumbuh sebagai ulama besar. Pelabuhan Gresik—yang dibangun melalui investasi bersama Pasai, Jawa, dan Ming pada 1425—berkembang menjadi pelabuhan Islam terbesar di Jawa selama satu abad berikutnya.

Dalam kerangka ini, pernyataan Gus Baha’ di Aceh tidak berdiri sebagai komentar personal, melainkan sebagai pengingat historis. Islam Nusantara tumbuh melalui proses panjang yang saling terhubung. Aceh berfungsi sebagai simpul awal peradaban, sementara Jawa berkembang melalui relasi struktural dengannya. Malik Ibrahim, dalam konteks tersebut, tidak sekadar penyebar agama, melainkan figur berdaulat yang meletakkan fondasi tauhid dan kekuasaan Islam di Jawa.

Sejarah mungkin belum memberi putusan final. Namun jejaknya cukup jelas untuk menolak pembacaan yang menyederhanakan. Islam Nusantara tidak lahir dalam ruang hampa, dan hubungan Pasai dengan Sunan Gresik merupakan bagian penting dari jaringan sejarah yang masih menunggu pembacaan yang lebih jujur dan proporsional.


Oleh : Alkemi